A Stupid Thing: One Side Love

Cinta pertama. Semua orang normal, akan atau telah mengalaminya. Termasuk aku. Jatuh cinta itu normal. Namun orang yang sedang jatuh cinta, terlihat tidak normal. Seperti orang gila yang tertawa sendiri memikirkan dia. Sang pujaan hati. Dan ketika patah hati, menangis seperti orang bodoh. Cinta itu gila.
Cinta itu perasaan aneh, yang menjalar keseluruh organ tubuh. Kemudian dalam sekejap, orang yang jatuh cinta akan bertingkah bodoh. Melakukan apapun untuk menarik perhatian sang pujaan hati. Meski pada akhirnya, akan sakit hati. Cinta seperti narkoba. Membuat ketergantungan, dan pada akhirnya akan membunuh orang itu jika dosisnya lebih. Bukan cinta jika tidak menyakitkan.
Cinta pertamaku dimulai saat kelas tiga SMP. Dia teman sekelasku. Namanya Gio. Kami tidak begitu akrab. Hanya secara kebetulan mungkin. Bukan takdir. Kami selalu bersama, karena teman-temanku berteman dengannya. Selalu seperti itu hingga SMA. Berbeda kelas, tapi dia selalu ke kelasku. Bukan untuk menemuiku, tapi menemui temanku.
Beberapa dari mereka menyukainya. Dia memang baik pada semua orang. Tapi denganku, itu beda lagi. Sikapnya selalu angin-anginan padaku. Ya. Hanya aku. Temanku yang menyukainya akan curhat padaku, dan aku selalu menjelek-jelekannya didepan temanku. Aku menceritakan kebiasaan jeleknya. Supaya temanku tidak lagi mnyukainya. Egois? Memang.
Saat SMP, dia adalah yang terpintar di kelasku. Teman sekelasku, selalu mencontek tugasnya. Namun saat aku hanya ingin mencontek satu nomor saja, bukannya memberikan contekan, malah menceramahiku.
“Makanya, kalau guru lagi menjelaskan diperhatikan.” Atau justru mempermainkanku. “Mau nyontek? Bayar dulu kalau gitu.” Sambil tersenyum jahil. Tanpa rasa bersalah, mengeluarkan kata-kata kejam itu. Aku membencinya!
Kadang dibanding meminta contekan, atau sekedar minta tolong padanya, aku akan berpikir seratus kali dulu. Pada akhirnya aku akan mencontek pada ketua kelasku. Setidaknya, meski wajahnya terlihat bodoh, dia termasuk terpintar di kelas. Dia juga sangat baik, tidak seperti Gio.
****
Dulu. Dulu sekali, saat aku masih tidak sadar akan perasaan ini. Saat aku, belum terganggu oleh perasaan ini. Saat otakku masih dipenuhi cerita-cerita dongeng. Saat itu aku membayangkan, mungkin aku akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih. Membawakanku setangkai bunga. Bersikap baik padaku. Mengatakan hal-hal baik tentangku.
Namun…
Yang terjadi justru sebaliknya. Orang pertama yang ada dihatiku. Orang pertama yang mengajariku cinta. Orang pertama yang mengambil hatiku. Adalah orang pertama yang mempermainkan hatiku. Rasanya seperti sebuah bom atom meledak dikepalaku secara tiba-tiba.
Bukan dia. Aku tidak ingin dia! Tapi hati dan otakku, berbeda pendapat. Hatiku menyukainya. Tapi otakku membencinya. Sangat membencinya. Jika dia adalah satu-satunya pria di dunia ini, yang diperebutkan oleh semua gadis di bumi, aku tidak akan ikut memperebutkannya. Karena otakku, tidak akan merelakannya.
Ada satu saat, dimana aku benar-benar menyukainya. benar-benar menginginkannya, berada disampingku. Dan sekaranglah saatnya. Saat aku dan dia tidak pernah bertemu. Saat kami mulai benar-benar seperti orang asing, satu sama lain. Saat segalanya, hanya menjadi kenangan. Kenangan, yang mungkin hanya aku saja yang mengingatnya.
****
Saat itu, porseni sekolah sedang dilaksanakan. Kami sudah kelas tiga SMA. Aku membantu temanku, yang panitia porseni untuk menyusun makanan. Saat aku sedang menyusunnya sendiri, dia datang. Menekan kepalaku lembut, lalu menyapaku. “Lagi ngapain?”
Aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku, lalu mengusap kepalaku. “Sakit tau.”
Gio tampak panik, lalu mengelus kepalaku. “Sakit ya? Maaf.”
Aku tersenyum. “Gak kok. Bercanda.”
Dia balas tersenyum. Lalu mengambil bungkusan makanan, yang belum diisi. “Aku bantu ya.”
Kami banyak bercanda saat itu. Dia terus membuatku tertawa. Banyak hal yang kami bicarakan. Namun, aku tidak ingat apa saja yang dia bicarakan. Yang aku ingat, hanya senyumnya. Senyum itu, yang ada didalam mimpiku.
****
Kalau dipikir, dulu kami cukup dekat. Meski aku tidak tahu, hubungan apa sebenarnya diantara kami. Kadang seperti teman baik. Kadang seperti musuh besar. Dan terkadang… seperti orang asing, satu sama lain.
Pria itu, lebih banyak memarahiku. Dia juga sering memandangku dengan tatapan dingin. Entah salahku apa. Dia selalu menatapku seperti itu. Beberapa orang tidak percaya ketika aku mengatakannya. Mereka hanya akan bilang, “Mungkin perasaan kamu saja.” Atau “Kamu terlalu kege-eran.”
Teman-temanku yang melihatnya memandangku seperti itu, justru balik bertanya padaku. “Kenapa dia mandang kamu kayak gitu?” Ada juga yang meledek. “Mungkin kamu punya hutang sama dia. Hahaha” Temanku yang lain, justru menyuruhku, menanyakan langsung hal itu padanya.
Aku sangat ingin menanyakan itu. karena aku juga bukan orang yang ingin memiliki musuh. Tapi, lagi-lagi aku menahannya. Aku membiarkannya. Berpura-pura tidak tahu. Mungkin akan lebih baik.
****
Ada satu dongeng yang cukup realistis menurutku. Judulnya, The Little Mermaid. Dikisahkan, seorang putri duyung bernama Ariel jatuh cinta pada seorang pangeran. Dia bersedia menukarkan suaranya dengan sepasang kaki, agar dia bisa bertemu dengan sang pangeran. Agar cintanya ke pangeran bisa terbalas. Namun bukannya mendapatkan cinta pangeran, justru dia menjadi buih dilautan.
Aku mungkin bukan Ariel. Gio juga bukan pangeran. Dan aku tidak akan mau, melakukan apa yang Ariel lakukan. Tapi, aku mungkin akan menjadi seperti buih, dan perlahan menghilang dari hidupnya. Aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Sudah kuputuskan. Bahkan untuk mengingat, atau menyebut namanya, aku tidak mau lagi.
Aku hanya ingin, sakit hati cukup sekali saja.
****
Ada satu hal lagi. Pesanku untuknya.
Untuk kamu, yang kusamarkan namanya.
Hai, apa kabar? Apa kamu masih mengingatku?
Apa kamu tahu, aku sangat membencimu? Karena kata -kata dan sikapmu selalu dingin padaku. Hanya padaku. Tatapanmu juga. Apa ada sesuatu yang salah padaku? Jika ada, kenapa tidak kamu beritahu saja aku langsung?
Tapi jujur saja, aku menyukaimu. Entah sejak kapan. Yang jelas, perasaan itu sudah cukup lama berada dalam hatiku. Aku ingin memberitahumu. Tapi melihat sikapmu itu, membuatku berpikir ratusan kali untuk menyatakannya.
Ada satu hal lagi. Terima kasih, telah mengkhawatirkanku dulu saat ujian praktek. Untuk membuatku tertawa saat aku butuh hiburan. Untuk bantuan saat ujian nasional SMP. Untuk sapaan khasmu padaku. Juga terima kasih untuk mengajariku cinta. Tanpamu, aku tidak akan tahu rasanya perasaan itu. Terima kasih.
8 Agustus. Kamu ingat? Kadang aku berpikir, mungkin kita akan bertemu pada tanggal itu. Tanggal yang sama, saat kita lahir. Hari itu juga, kamu datang paling cepat. Dan kita saling mengucapkan selamat ulang tahun. Ingatkan?
Oh iya. Maaf karena aku tidak sering menanggapimu saat bicara denganku. Aku hanya takut, jika aku melakukan itu, kamu akan tahu perasaanku. Aku takut, menjadi bahan ejekanmu. Juga takut untuk tahu yang sebenarnya. Apakah kamu menyukaiku atau tidak? Apakah kamu membenciku atau tidak?
Mereka bilang, cinta itu seperti kupu-kupu yang hinggap dimana ia inginkan. Tak ada yang tahu, dimana akhirnya dia akan hinggap dan memilih untuk tinggal. Kurasa benar.
Mungkin kupu-kupu yang ada dihatiku ini, sedang mencari tempat untuk tinggal. Mungkin untuk sementara, dia akan hinggap dihatimu. Tapi aku tahu, itu bukanlah tempat kupu-kupuku akan tinggal selamanya. Karena hatimu gelap, dingin, dan menyakitkan.
Mulai sekarang, kupu-kupu itu akan kembali terbang. Mencari tempat untuk hinggap. Dia akan meninggalkan hatimu sekarang. Mencari tempat yang lebih nyaman untuk tinggal. Yang berarti, aku akan melupakanmu. Tapi, jika kamu tiba-tiba datang dan menghalanginya, aku akan tetap menyukaimu. Maka cepatlah. Aku tidak bisa menunggumu lagi. Karena hatiku, sudah banyak terluka olehmu.
Bagiku, kamu adalah hal terindah juga paling menyakitkan, dalam masa remajaku. Aku melewatinya, sambil menatapmu dari jauh. Berharap, kamu akan berbalik dan kemudian tersenyum padaku. Menyapaku. Menyebut namaku. Tapi aku hanya bisa melihat punggungmu. Dan dia, selalu berada tepat didepanmu. Aku iri.
Terakhir. Jika kamu membaca ini suatu hari nanti, bisakah kamu hanya diam? Jangan mengatakannya padaku jika sudah. Karena mungkin, saat itu aku sudah melupakanmu. Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi bagian dari masa remajaku yang kaku.

author: hachigatsu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s