Gara-gara Mitos Warga

Malam ini sangat dingin, namun tidak ada tanda-tanda akan hujan. Hembusan angin menambah dinginnya malam ini. Aku sedang duduk di teras rumah nenek ku, sambil bercerita bersama sepupu-sepupu ku. Oh aku lupa memperkenalkan diriku, nama ku Rini. Setiap liburan aku dan sepupu ku, akan menginap di rumah nenekku.

Joe sedang menceritakan mitos yang ada di sekitar sini. Katanya setiap musim panas, di sekitar sini sering terjadi hal-hal aneh. Seperti seseorang sedang mengetuk pintu rumah warga, tapi tidak ada siapa-siapa diluar sana, atau benda di luar rumah yang melayang sendiri. Kata Joe itu ulah hantu-hantu usil yang keluar dari hutan di dekat desa. Tapi kami semua tidak takut pada cerita Joe, karena kami semua tahu kalau Joe pandai mengarang-ngarang cerita hantu agar kami semua takut. Mika pun segera angkat bicara.

“ Joe berhenti bercerita seperti itu. Kamu pikir kalo kamu cerita kayak gitu, semua orang di sini bakal takut dengerin cerita kamu itu ?”

“ kamu pikir aku ngarang ? aku serius. di sini bener-bener ada hantunya. Kalo gak percaya, kamu bisa buktiin sendiri. “ sahut Joe, membela dirinya sendiri.

“ udah berhenti bertengkarnya. Lagi pula kamu mau buktiin kayak apa ? kita gak tau cara buktiinnnya.” Momo membujuk mereka agar tidak bertengkar lagi.

“ gimana kalo kita ngadain adu keberanian ? kita bagi jadi dua kelompok, buat ngebuktiin omongan aku ?” ajak Joe bersemangat.

“ aku setuju. Aku bareng Mika sama Heri, Kamu, Momo, sama Choki bareng. Gimana kalian setuju kan ?” kata ku penuh semangat.

Mereka semua mengangguk setuju. Meskipun Momo sedikit takut untuk melakukannya. Bukan takut karena hantu, tapi takut sesuatu yang buruk terjadi. Makanya sebelum berangkat kami berdoa dulu agar semuanya baik-baik saja nanti, dan juga menenangkan hati Momo. Nenek sudah menyiapkan kami bekal dan senter. Nenek bilang hutan itu luas, jadi harus hati-hati supaya tidak kesasar.

Kelompoknya Joe mulai lebih dulu, dan kelompokku menyusul. Kami semua menyusuri hutan, mencari tahu sendiri tentang hantu itu. kelompokku dan kelompok Joe terpisah. Sebenarnya aku merasa hal ini tidak ada gunanya untuk dilakukan, tapi aku juga penasaran tentang cerita itu. Aku, Mika, dan heri menyusuri jalan dihutan. Tapi sudah lebih sejam belum ada tanda-tanda hantu itu muncul. Aku mulai berpikir, “kayaknya cerita ini cuma karangannya Joe ajah. Masa sih ada hantu. Kalo bener ada, seharusnya udah muncul dari tadi, tapi udah se-jam lebih belom muncul juga.”

Kami bertiga berjalan hati-hati. Heri sudah mulai mengantuk, dan Mika mulai mengeluh.

“ aduh ini tuh udah jam sepuluh, tapi kok belum ada tanda-tanda hantunya muncul sih ? jangan-jangan ini Cuma akal-akalannya Joe lagi, supaya kita menderita. Dasar si Joe. Liat aja nanti kalo aku ketemu sama dia, aku bakalan mukulin dia dan marah-marah sama dia.” Keluh Mika kesal.

“ udalah Mika, anggep ajah kita ini lagi jalan-jalan di mall pas mati lampu.” Hibur Heri.

“ mana ada mall kayak gini ? pohon semua.” Kata Mika.

“ bener tuh kata Heri. Anggep ajah kita ini lagi jalan-jalan di mall pas mati lampu. Jangan cemberut  terus dong. Entar bibir kamu tambah manyun. Hehehehehe.” Kata ku.

Heri menahan ketawanya, saat aku bilang sama Mika “Entar bibir kamu tambah manyun”. Tapi meskipun begitu wajahnya jadi makin lucu. Mika yang melihat ekspresi Heri seperti itu, segera melipat bibirnya kedalam. Dia sepertinya agak marah sama Heri.

“ jangan marah kayak gitu dong. Aku sama Rini kan Cuma bercanda. Iya kan Rin ?” kata Heri. Aku hanya mengangguk.

Tiba-tiba ada suara dari balik pohon-pohon. Kami perlahan-lahan mendekati pohon itu. Dari balik pohon terlihat sebuah cahaya, tapi kami tidak tahu cahaya apa itu. Terlintas di pikiran ku, jangan-jangan itu hantunya. Kami bertiga terus mengamati cahaya itu. semakin lama, cahaya itu semakin dekat. Saat cahaya itu mendekati kami, kami bertiga hanya diam dan terus melihat ke cahaya itu. lalu cahaya itu menghilang. Kami berusaha mencari cahaya itu, dan sesaat seperti ada yang menepuk pundak kami. Kami bertiga berbalik perlahan-lahan. Kemudian ketika melihat cahaya itu di belakang kami, serentak kami berteriak dan berlari secepat mungkin.

Kemudian terdengar sebuah teriakan dari belakang, seperti memanggil kami. “ Hey.. Tungguin dong.” Mendengar suara itu, Heri berhenti berlari dan berbalik kebelakang. Namun aku dan Mika terus berlari, sekencang mungkin. “ hey.. kalian berdua, berhenti. Itu bukan hantu.” Seru Heri, kepada kami berdua. Perlahan-lahan kami menghentikan laju kami, kemudian berhenti berlari.

“ terus itu apa ? apa itu alien ?” tebak Mika.

“ hahahahahaha.. ya ampun Mika, alien ? itu tuh Cuma takhayul.” Kata ku.

“ iyah nih Mika. Kebanyakan nonton film sih. Hahahaha…” tambah Heri.

“ terus itu apaan kalo bukan alien ?” tanya Mika penasaran.

“ hey.. kalian bertiga. Tungguin dong..” suara itu terdengar lagi.

“ kalian denger gak ? suara itu ada lagi.” Tanya ku.

“ kayaknya aku kenal sama suara itu.” kata Heri.

Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Mika dari belakang. Sontak dia berteriak, dan langsung memelukku ketakutan. Aku dan Heri menyalakan senter, lalu menyorotkan senter itu.

“ aduh silau tau.” Keluh Momo.

“ hah ! ternyata kalian. Ngagetin ajah.” Kata ku lega.

“ ya ampun, kalian ini hampiri buat putri Mika jantungan. Hahahahaha.”  Canda Heri.

“ hehehehe… maaf yah. Soalnya, senter ku sama senternya Joe mati.” Kata choki.

“ tapi gak perlu buat aku, jantungan kali.” Kata Mika. “ tapi ngomong-ngomong, kalian udah ketemu hantunya belom ?”

“ belum.” Jawab Joe sedikit kecewa.

“ kan aku udah bilang, gak ada yang namanya hantu. Hantu itu Cuma cerita rakyat doang.” Kata Mika.

“ tapi kamu percaya sama alien. Hehehehe..” goda Heri.

“ siapa yang bilang kalo aku percaya alien ?” kata Mika.

“ kamu kan yang bilang tadi.” Kata Heri.

“ aku ? aku gak pernah bilang itu.” Mika menyangkal.

“ udah-udah gak usah berantem. Yang penting kan, gak ada dari kita yang celaka. Mending kita pulang.” Aku menyela.

“ bener tuh kata kamu, pulang yuk. Aku udah capek ples laper nih.” Keluh Choki.

Mika berbalik ke arah Choki, kemudian menatap kakak ku itu. Tatapan Mika sedikit sinis, namun Choki pura-pura melihat sekelilingnya. Padahal aku tahu dia sebenarnya sedikit takut sama tatapan sinisnya Mika. Lalu Mika berbalik arah dan segera berjalan, sambil mengatakan “ayo cepet jalannya. Kak Choki. Kakak bilang, kakak udah laper makanya cepet jalan. Kalo masih berdiri di situ gak bakal sampe dirumah kali.” Katanya sambil tertawa ria.

Entah apa yang dipikirkan oleh Mika. Tak ada yang bisa menebak isi hati gadis itu. Tiba-tiba marah, tiba-tiba ketawa, tiba-tiba nagis. Kadang aku berfikir, jangan-jangan Mika gila. Tapi itu tidak mungkin. Kalau dia gila, mana mungkin dia ingat nama aku sama yang lain, dan bisa marah-marah kayak tadi. Dia juga tidak mungkin mengeluh terus, kalau dia gila. Tapi siapa yang peduli dia waras atau gila ? yang penting sekarang sampai dirumah dengan selamat.

Di teras rumah, terlihat nenek sama Ayah ku sudah menunggu ku dan yang lain. Mereka terlihat mengatuk, tapi tetap memaksakan diri untuk menunggu kami sampai pulang. Saat melihat kami kembali, ayah segera berdiri dari tempat duduknya dan segera menghampiri kami semua. Beliau terlihat amat cemas.

“ kalian dari mana aja. Katanya Cuma sebentar, kenapa sampai jam segin baru pulang ?” katanya sambil menunjuk ke jam. Astaga udah jam dua malam. Kata ku dalam hati.

“ maaf Yah. Tadi kita semua kesasar.” Kata ku, merasa amat bersalah.

“ gak apa-apa yang penting kalian gak apa-apa. Lain kali jangan diulangi lagi yah.” Kata Ayah.

“ OKE Kapten.” Seru kami semua. Hampir bersamaan. Kemudian tertawa bersama-sama.

Nenek yang sedang tertidur pulas dikursi goyangnya pun terbangun, karena suara kami semua. Meskipun tidak tahu apa-apa, beliau ikut tertawa. Bahkan suaranya lebih kencang dari suara kami semua. Kami semua terdiam melihat nenek. Kemudian nenek berkata, “ kenapa kalian diam ?”

“ nenek sendiri, ngapain ketawa ? Tanya Momo.

“ aku tidak tahu. Karena kalian ketawa, jadi aku ikut ketawa saja.” Jawabnya sangat santai.

Melihat ekspresi nenek seperti itu, kami semua kembali tertawa. Nenek juga ikut ketawa. Suasana yang tadinya sedikit kaku, karena kami terlambat pulang segera menjadi bahagia lagi. Kami pun berjanji pada semuanya, kalau kami tidak akan seperti ini lagi. Agar semuanya tidak khawatir.

****the end****

 

note : kalo ada huruf atau kata yang hilang mohon dimaklumin, secara aku nulisnya pas tengah malam…..hehehehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s